Penciptaan Alam semesta
menurut Alkitab (Kitab Suci Kristen)
Di dalam Alkitab
pada Kitab Kejadian (ditulis oleh Musa pada sekitar 1450 – 1410 S.M.)
dinyatakan bahwa Tuhan Allah menciptakan alam semesta beserta segenap isinya dalam
bilangan enam hari. Pada hari pertama diciptakan siang dan malam. Kemudian pada
hari kedua diciptakan langit dan disusul pada hari ketiga diciptakan bumi.
Bintang-bintang dan matahari diciptakan pada hari keempat. Hari kelima
diciptakan makhluk-makluk di dalam air dan di angkasa. Pada hari ke enam, Tuhan
Allah menciptakan semua jenis binatang dan yang paling akhir manusia. Pada hari
ketujuh Tuhan Allah menjadikannya sebagai hari perhentian/istirahat (cf. Kitab
Kejadian fasal 1)
Tujuan Musa
menuliskan Kitab Kejadian, khususnya fasal 1, bukanlah membuat paparan
karya ilmiah tentang penciptaan alam semesta, meskipun kitab tersebut sudah berusia
beberapa milinium sebelum munculnya ilmu pengetahuan modern.Tulisannya adalah
kesaksian pertama bahwa alam semesta itu bukanlah berasal dari kekekalan melainkan
ada permulaan kejadiannya, dan terjadinya secara bertahap. Para ahli astronomi
modern juga mendapati kenyataan bahwa alam semesta itu tidak kekal setelah mempelajari
bahwa alam semesta itu berkembang seperti balon. Semuanya pada 13 sampai 20
juta tahun yang lalu berwujud gumpalan dengan titik mikroskopis, yang melalui
suatu ledakan dahsyat layaknya berkembang menyebar ke segala arah, membentuk
alam semesta yang kita hayati (baca teori Big Bang di bawah).
Musa membagi
penciptaan dunia oleh Tuhan Allah dalam tujuh hari dan menamai masing-masing
bagian itu secara simbolik sebagai hari. Jadi Tuhan menciptakan dunia dalam
enam “hari” dan pada hari ke tujuh Tuhan Allah berhenti dari berkarya dan menetapkannya
sebagai hari perhentian/istirahat. Keseluruhan sejarah umat manusia berjalan
pada hari ketujuh dan telah berlangsung sampai ribuan tahun. Angka tujuh di dalam
menyebut hari itu sendiri sering digunakan secara simbolik dan bukan kuantitatif.
Angka itu sendiri menandai sesuatu yang lengkap dan utuh.
Seperti disebut di
depan Musa bukanlah bermaksud membuat paparan ilmiah dengan mencatat semua
peristiwa secara rinci dan lengkap yang mungkin akan menarik bagi ilmu pengetahuan.
Salah satu tujuan utama tulisan Musa ialah menunjukkan Sumber dari segala
Sumber alam semesta, yaitu Sang Maha Pencipta yang Maha Kuasa dan Maha Bijak.












0 komentar:
Posting Komentar