Paskibraka

Paskibraka MA Kabeloa

KEGIATAN SISWA

Pelaksanaan Kegiatan Perayaan di Sekolah.

Guru-Guru

Dokumentasi Guru-guru.

KH. SYAKIR HUBAIB

Pendiri sekaligus Pimpinan Pesantren Kabeloa ...

Kegiatan Guru

Kegiatan Dewan Guru.

Rabu, 05 Februari 2025

Pengantar Ilmu Sejarah, Pengertian, Manfaat, Aspek Penting dan Kajian

 

Sejarah (Manusia, Ruang dan Waktu) : Pengantar Ilmu Sejarah | Pengertian Sejarah | Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli | Manfaat Ilmu Sejarah | Aspek Penting dalam Ilmu Sejarah | Kajian Ilmu Sejarah |

Pengertian Sejarah

Sejarah dalam bahasa Indonesia menurut beberapa ahli berasal dari bahasa Arab yaitu “ Ψ΄Ψ¬Ψ± “ dibaca: Ε‘ajaratun, yang berarti “pohon kayu“. Menurut Yamin (1958), pohon melambangkan pertumbuhan dan perkembangan yang berkesinambungan. Dalam hal ini pertumbuhan pohon yang terus-menerus dimaknai sebagai asal-usul, riwayat, silsilah, dan hikayat.

Dalam KBBI, istilah sejarah mengandung tiga penjelasan yaitu: 1. Asal-usul (keturunan) silsilah; 2. Kejadian dan peristiwa yang benarbenar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo: cerita; 3. Pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa lampau.

Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah sejarah dinyatakan dalam kata history. Berdasarkan Kamus Cambridge, history adalah kajian atau catatan tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau berupa peristiwa dalam kurun waktu tertentu suatu negara atau subjek lain. Dalam bahasa Yunani, sejarah berasal dari kata “historia” yang memiliki arti “orang pandai”.

 

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli

Menurut E.H Carr (1982) berpendapat, “Sejarah adalah suatu proses interaksi yang berkelanjutan antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya; Sejarah adalah suatu dialog yang abadi antara masa sekarang dan masa lampau.”

Menurut Jackson J Spielvogel (2005), sejarah adalah “Catatan tentang masa lalu.” Secara sederhana, pengertian sejarah sebagai ilmu adalah ilmu yang mempelajari peristiwa, orang, negara, atau kehidupan yang terjadi pada masa lalu.

Menurut Kuntowijoyo (2013) sejarah adalah “ilmu yang mengkaji tentang manusia, waktu, sesuatu yang memiliki makna sosial, tentang sesuatu yang tertentu (partikular) dan teperinci.

Manfaat Ilmu Sejarah

Menjelaskan bagaimana manusia dan tindakan mereka mungkin dipengaruhi oleh situasi politik atau masalah ekonomi atau kondisi geografi. Melalui sejarah, kita akan memahami perilaku manusia dan nilai-nilai suatu masyarakat.

Memberikan pemahaman bahwa orang-orang pada masa lalu mungkin tidak memiliki nilai yang sama seperti yang kita miliki saat ini. Pemahaman tentang masa lampau akan membantu kita untuk menghindari kesalahan agar tidak terulang pada masa kini dan mendatang.

Mengenal siapa diri kita sebagai pribadi dan mengenal siapa kita secara kolektif (sebagai bagian dari suatu kelompok masyarakat dan bangsa). Pemahaman tentang identitas akan menumbuhkan ikatan sosial (contohnya ketika kita mengetahui tentang sejarah keluarga maka akan menumbuhkan jiwa saling membantu karena menjadi bagian dari suatu keluarga).

Memahami memori dan tradisi yang diwariskan oleh generasi sebelumnya ke generasi mendatang hingga bagaimana sejarah membentuk kondisi kita saat ini.

Menumbuh kembangkan kecakapan berpikir kritis, kreatif, imajinatif, dan reflektif

Menumbuhkembangkan kecakapan ilmiah seperti mencari sumber (heuristik), memilah sumber (verifikasi), dan menganalisis sumber sejarah (interpretasi).

Aspek Penting dalam Ilmu Sejarah

Manusia sebagai penggerak, pelaku, dan saksi sejarah

Manusia dalam kajian ilmu sejarah adalah subjek dan objek, yaitu manusia dengan segenap gagasan dan tindakannya adalah penggerak sejarah yang membawa perubahan di masyarakat. Di samping itu, dalam memahami manusia dalam rentang sejarah, Kartodirjo (2017) memaparkan bahwa ketika biografi dan individu menjadi unit sejarah, maka individu sebagai manusia harus dipahami secara utuh mengenai latar belakangnya, lingkungan sosial-budaya, watak, dan pandangan hidupnya.

Ketika belajar tentang manusia sebagai penggerak, pelaku, saksi sejarah, kalian mengetahui manusia memiliki suasana kebatinan dan pemikiran. Kalian dapat belajar dari berbagai biografi termasuk biografi tentang orang-orang biasa yang berkontribusi bagi sejarah umat manusia. Selain itu manusia juga dipahami dari ruang atau tempat peristiwa di mana mereka berada. Ruang atau tempat yang dimaksud adalah kondisi lingkungan, baik secara sosial, budaya, geografis, maupun ekonomi. Manusia dalam waktu adalah bagaimana sejarah manusia dipelajari baik perkembangan, perubahan, keberlanjutan, dan keberulangannya.

Sejarah dalam Dimensi Ruang dan Waktu

Dalam ilmu sejarah, dimensi ruang atau spasial merujuk pada tempat suatu peristiwa terjadi. Dimensi ruang menjelaskan tentang kondisi dan situasi suatu peristiwa terjadi. Dimensi ruang sejarah dapat berdasarkan skala lokal, nasional, maupun global. Lokasi atau wilayah kalian tinggal, selalu memiliki sejarah lokal. Walaupun terjadi pada tingkat lokal, peristiwa tersebut seringkali berkaitan dengan berbagai kejadian di tingkat nasional maupun global. Sebagai contoh, tumbuhnya kesadaran nasionalisme dalam pergerakan nasionalisme Indonesia pada masa 1908-1945 di suatu daerah dipengaruhi atau terinspirasi dari berbagai perjuangan melawan kolonialisme dan imperalisme di dunia.

Dimensi waktu merujuk pada kapan suatu peristiwa terjadi. Dimensi waktu dapat berupa detik, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad pada masa lampau yang menunjukkan kapan suatu peristiwa terjadi. Waktu juga ditandai oleh peristiwa lain yang terjadi bersamaan dengan peristiwa itu sendiri. Misalnya, ada orang menandai waktu kelahirannya dengan peristiwa lain yang bersamaan terjadinya seperti peristiwa bencana, misalnya gunung meletus. Ringkasnya, ilmu sejarah mengkaji berbagai peristiwa dan manusia berdasarkan aspek waktu.

Berdasarkan Kuntowijoyo (2013), terdapat empat hal yang dipelajari dalam sejarah dari segi waktu yaitu 1. Perkembangan; 2. Kesinambungan; 3. Pengulangan; dan 4. Perubahan. Ilmu sejarah mempelajari bagaimana suatu peristiwa berkembang dan berkesinambungan dalam kurun waktu tertentu, kemungkinan terdapat pengulangan kejadian/peristiwa, serta peristiwa bersejarah yang menimbulkan perubahan di suatu masyarakat atau pun negara. Dalam ilmu sejarah terdapat periodisasi atau pembabakan waktu dengan tujuan untuk menjelaskan ciriciri tertentu yang terdapat dalam suatu periode sejarah. Sebagai contoh, berdasarkan periodisasi, sejarah Indonesia dibagi dalam empat periode, yaitu Indonesia pada masa prasejarah, pada zaman kuno, pada zaman Islam, dan pada zaman modern.

Diakronis (Kronologi) dan Sinkronis dalam Sejarah

Ilmuwan sosial bernama John Galtung, dalam bukunya yang berjudul Theory and Method of Social Research tahun 1966, berpendapat bahwa sejarah adalah ilmu diakronis (diachronic) dan ilmu sosial lainnya adalah ilmu sinkronis. Sebagai ilmu yang diakronis, Kuntowijoyo (2008) menjelaskan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala yang memanjang dalam waktu tetapi terbatas dalam ruang. Sebagai contoh penelitian sejarah yang diakronis adalah Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura: 1850-1940 karya Dr. Kuntowijoyo, Sejarah Industri Minyak di Sumatera Utara: 1896-1940 karya Dr. Bambang Purwanto, serta masih banyak contoh karya-karya lainnya dari ahli sejarah Indonesia.

Ilmu sejarah itu diakronis, yang menjelaskan berbagai peristiwa masa lalu dalam rentang waktu yang panjang. Sebagai ilmu yang diakronis, , ilmu sejarah menekankan proses dan dinamika suatu peristiwa di masa lampau, berdasarkan perkembangan, perubahan, kesinambungan dan pengulangan.

Kronologi

Sebagai ilmu diakronis, menurut Zed (2018), ilmu sejarah menjelaskan perubahan dalam lintasan waktu yang disampaikan secara berurutan dari waktu yang paling awal hingga yang paling akhir. Artinya, ilmu sejarah diakronis disampaikan secara kronologis. Kronologi dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani yaitu “chronos” yang berarti waktu. Merujuk pada kamus Merriam-webster, kronologi adalah pengaturan atau pengorganisasian setiap peristiwa dalam urutan kejadian.

Periodisasi

Periodisasi adalah pembabakan waktu dalam sejarah dengan cara menghubungkan berbagai peristiwa sesuai dengan masanya dalam satu periode. Periodisasi dalam sejarah berdasarkan kriteria tertentu yang ditentukan oleh sejarawan. Sebagai contoh periodisasi berdasarkan waktu adalah masa praaksara dan masa aksara. Pembeda dari kedua periodisasi ini adalah waktu ketika manusia telah mengenal tulisan atau belum. Menurut Kuntowijoyo (2008), sejarawan membuat waktu yang terus bergerak agar mudah dipahami dengan membaginya dalam babak-babak, periode-periode tertentu. Pengklasifikasikan atas waktu pada contoh di atas adalah periodisasi.

 

Tujuan dari periodisasi adalah untuk memudahkan memahami suatu peristiwa bersejarah dalam rentang waktu dan klasifikasi tertentu. Salah satu contoh periodisasi sejarah Indonesia yang dilakukan oleh sejarawan Taufik Abdullah pada karyanya Indonesia dalam Arus Sejarah adalah:

 

Prasejarah

Kerajaan Hindu-Buddha

Kedatangan dan Peradaban Islam

Kolonialisasi dan Perlawanan

Masa Pergerakan Kebangsaan

Perang dan Revolusi

Pasca-Revolusi

Orde Baru dan Reformasi

Berpikir Sinkronis

Sinkronis secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu “synchronous” yang berarti terjadi secara bersamaan. Seperti yang sudah dijelaskan pada materi sebelumnya, ilmu sejarah memanjang dalam waktu sekaligus juga melebar dalam ruang. Sinkronis dalam ilmu sejarah merujuk pada ruang tempat terjadinya suatu peristiwa atau kejadian yang menjelaskan tentang situasi dan kondisi (konteks) suatu masyarakat, sebab-akibat, dan korelasi (pola hubungan) atas suatu peristiwa. Situasi dan kondisi yang dimaksud dapat berupa kondisi ekonomi, seperti kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat; atau mengacu pada profesinya, misalnya sebagai pedagang, petani, dan lain-lain. Kondisi atau konteksnya juga dapat berupa kondisi geografis, misalnya keadaan alam dan sumber daya alamnya, situasi dan kondisi budaya, suku dan tradisi suatu masyarakat, atau situasi dan kondisi sosial tentang keragaman sosial masyarakat yang dapat dilihat dari pelapisan sosial maupun diferensiasi sosialnya.

Meskipun ilmu sejarah dan ilmu sosial lainnya sama-sama bersifat sinkronis dan diakronis, keduanya memiliki kecenderungan berbeda. Ilmu sejarah cenderung bersifat ilmu diakronis sementara ilmu sosial lainnya seperti ilmu sosial dan humaniora cenderung sebagai ilmu sinkronis. Berpikir sinkronis dalam belajar sejarah mendorong kalian untuk menjelaskan secara terperinci mengenai konteks (situasi dan kondisi) suatu masyarakat, hubungan sebab-akibat, hubungan (korelasi) antarfaktor. Adapun maksud dari penjelasan, situasi dan kondisi (konteks) dapat kalian jelaskan berdasarkan kondisi ekonomi, adat-istiadat, struktur sosial, komposisi penduduk, kondisi politik, dan aspek-aspek lainnya. Perhatikan gambar bagan di bawah ini untuk melihat hubungan diakronis dan sinkronis antara ilmu sejarah dan ilmu sosial.

 

Kajian Ilmu Sejarah

Menurut sejarawan Kuntowijoyo, kajian ilmu sejarah bukan mitos belaka karena ilmu sejarah mempelajari peristiwa yang sungguh terjadi dan nyata. Keberadaan ilmu sejarah bisa dilacak sampai abad ke-5 SM melalui kehadiran karya Herodotus (484 SM-425 SM ) yang berjudul Historie tentang sejarah Perang Yunani-Persia. Ketika menulis tentang perang tersebut, Herodotus sudah menggunakan berbagai sumber sejarah baik melalui pengamatan, prasasti, dan cerita lisan sehingga karyanya sudah memenuhi prosedur ilmiah. Boleh dikatakan, Herodotus adalah pelopor penulisan sejarah sesuai kaidah ilmu pengetahuan. Atas jasanya, Herodotus dijuluki sebagai “Bapak Sejarah”. Selanjutnya tradisi itu diteruskan oleh Thucydides ( 456- 396 SM) yang menuliskan tentang Perang Peloponesia antara Athena dan Sparta (Syukur, 2008:1).

Seseorang yang mempelajari dan menyampaikan sejarah dengan menggunakan sumber informasi dari masa lalu disebut sebagai sejarawan.

Beberapa Sifat manusia

 

Beberapa Sifat manusia

28. Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. 4:28

12. Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 10:12)

9. Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nimat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (QS. 11:9)

5. Ayahnya berkata: Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. 12:5)

34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nimat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nimat Allah). (QS. 14:34)

11. dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:11)

13. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (berupa data yang dikalungkan) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS. 17:13)

100. Katakanlah: Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabbku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. 17:100)

54. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (QS. 18:54)

66. Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nimat. (QS. 22:66)

72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)

Keadaan Manusia di Zaman Azali

 

Keadaan Manusia di Zaman Azali

Surat Al-Insaan

1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (QS. 76:1)

2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. 76:2)

3. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. 76:3)

 

 

Surat Assajdah

7. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (QS. 32:7)

8. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (QS. 32:8

9. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. 32:9)

10. Dan mereka berkata: Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Rabbnya. (QS. 32:10)

11. Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan. (QS. 32:11)

12. Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata): Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin. (QS. 32:12)

13. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (QS. 32:13)

 

Surat Attin

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. 95:4)

5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), (QS. 95:5)

6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. 95:6)

7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? (QS. 95:7)

8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (QS. 95:8)

Wasiat Luqmanul hakim

 

12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 31:12)

 

Wasiat Luqmanul hakim

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (QS. 31:13)

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)

16. (Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 31:16)

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. 31:17)

18. Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 31:18)

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. 31:19)

20. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nimat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (QS. 31:20)

21. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS. 31:21)

22. Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. 31:22)

23. Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. 31:23)

24. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (QS. 31:24)

25. Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Segala puji bagi Allah; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. 31:25)

26. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. 31:26)

27. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 31:27)

28. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 31:28)

29. Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnyaAllah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 31:29)

30. Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. 31:30)

31. Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nimat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. 31:31)

32. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (QS. 31:32)

33. Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS. 31:33)

34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. 31:34)

Penciptaan Alam semesta menurut Alkitab (Kitab Suci Kristen)

 

Penciptaan Alam semesta menurut Alkitab (Kitab Suci Kristen)

 

          Di dalam Alkitab pada Kitab Kejadian (ditulis oleh Musa pada sekitar 1450 – 1410  S.M.) dinyatakan bahwa Tuhan Allah menciptakan alam semesta beserta segenap isinya dalam bilangan enam hari. Pada hari pertama diciptakan siang dan malam. Kemudian pada hari kedua diciptakan langit dan disusul pada hari ketiga diciptakan bumi. Bintang-bintang dan matahari diciptakan pada hari keempat. Hari kelima diciptakan makhluk-makluk di dalam air dan di angkasa. Pada hari ke enam, Tuhan Allah menciptakan semua jenis binatang dan yang paling akhir manusia. Pada hari ketujuh Tuhan Allah menjadikannya sebagai hari perhentian/istirahat (cf. Kitab Kejadian fasal 1)

          Tujuan Musa menuliskan Kitab Kejadian, khususnya fasal 1, bukanlah membuat  paparan karya ilmiah tentang penciptaan alam semesta, meskipun kitab tersebut sudah berusia beberapa milinium sebelum munculnya ilmu pengetahuan modern.Tulisannya adalah kesaksian pertama bahwa alam semesta itu bukanlah berasal dari kekekalan melainkan ada permulaan kejadiannya, dan terjadinya secara bertahap. Para ahli astronomi modern juga mendapati kenyataan bahwa alam semesta itu tidak kekal setelah mempelajari bahwa alam semesta itu berkembang seperti balon. Semuanya pada 13 sampai 20 juta tahun yang lalu berwujud gumpalan dengan titik mikroskopis, yang melalui suatu ledakan dahsyat layaknya berkembang menyebar ke segala arah, membentuk alam semesta yang kita hayati (baca teori Big Bang di bawah).

          Musa membagi penciptaan dunia oleh Tuhan Allah dalam tujuh hari dan menamai masing-masing bagian itu secara simbolik sebagai hari. Jadi Tuhan menciptakan dunia dalam enam “hari” dan pada hari ke tujuh Tuhan Allah berhenti dari berkarya dan menetapkannya sebagai hari perhentian/istirahat. Keseluruhan sejarah umat manusia berjalan pada hari ketujuh dan telah berlangsung sampai ribuan tahun. Angka tujuh di dalam menyebut hari itu sendiri sering digunakan secara simbolik dan bukan kuantitatif. Angka itu sendiri menandai sesuatu yang lengkap dan utuh.

          Seperti disebut di depan Musa bukanlah bermaksud membuat paparan ilmiah dengan mencatat semua peristiwa secara rinci dan lengkap yang mungkin akan menarik bagi ilmu pengetahuan. Salah satu tujuan utama tulisan Musa ialah menunjukkan Sumber dari segala Sumber alam semesta, yaitu Sang Maha Pencipta yang Maha Kuasa dan Maha Bijak.

Siapa yang pantas disebut sebagai "manusia pertama"?

 

Siapa yang pantas disebut sebagai "manusia pertama"?

Pertanyaan ini telah memicu perdebatan sengit di kalangan para ahli.

Beberapa fosil purba mengklaim gelar tersebut, namun bukti-bukti yang ada masih menjadi perdebatan.

Artikel ini akan mengulas berbagai teori dan temuan tentang evolusi manusia, serta mencoba mengurai benang kusut mengenai siapa sebenarnya yang pertama kali dianggap sebagai manusia.

Batas antara manusia dan kera

Perjalanan evolusi manusia adalah sebuah misteri yang memikat. Kita terdorong untuk memahami asal-usul kita, untuk melacak jejak nenek moyang kita yang jauh. Namun, pertanyaan mendasar tetap menghantui: di mana sebenarnya titik awal kita sebagai manusia?

Di luar itu, muncul juga pertanyaan: seberapa jauh kita harus menelusuri waktu untuk menemukan nenek moyang kita yang bukan manusia, melainkan kera yang berjalan dengan dua kaki? Apa saja syarat untuk dianggap sebagai "manusia"?

Tanya Smith, seorang ahli biologi evolusi manusia dari Griffith University, menyatakan bahwa menjawab pertanyaan tersebut jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Selama berabad-abad, para ilmuwan berusaha menjawab pertanyaan ini dengan mengklasifikasikan fosil-fosil purba. Fosil-fosil seperti Lucy, si Australopithecus afarensis, yang berjalan tegak namun memiliki ciri-ciri kera, menjadi petunjuk penting.

"Awalnya, ukuran otak besar dan kemampuan menggunakan alat dianggap sebagai ciri khas yang membedakan manusia dari nenek moyang kita," ujar Smith, seperti dilansir dari laman abc.net.au.

Namun, penemuan-penemuan baru terus mengungkap kompleksitas evolusi kita. Batas antara manusia dan kera ternyata tidak sejelas yang kita bayangkan. Fosil-fosil yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir menantang asumsi-asumsi lama.

Jadi, siapa sebenarnya manusia itu?

Kita, Homo sapiens, dengan bangga menyebut diri sebagai manusia. Kamus Macquarie mendukung hal ini dengan menyatakan bahwa "manusia" adalah "manusia", yang pada gilirannya adalah "anggota spesies manusia, Homo sapiens.

Namun, dalam sejarah panjang evolusi, kita bukanlah satu-satunya spesies yang pernah menyandang gelar itu.

Untuk memahami lebih lanjut, mari kita melakukan perjalanan singkat melintasi waktu. Kita akan menjelajahi berbagai spesies hominin yang pernah hidup di Bumi, dan mencoba mengungkap kapan dan bagaimana kita menjadi manusia modern seperti sekarang.

Kerabat dekat manusia purba

Pernahkah Anda membayangkan bertemu dengan saudara jauh Anda yang hidup puluhan ribu tahun lalu?

Jika Anda melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, Anda mungkin akan berpapasan dengan sosok mirip manusia yang berkeliaran di Bumi. Mereka adalah Neanderthal (Homo neanderthalensis) dan Denisovan, kerabat terdekat kita dalam pohon keluarga evolusi manusia.

Neanderthal, dengan tubuh kekar dan otak yang relatif besar, sudah sering kita dengar. Sementara, Denisovan masih menjadi misteri yang menarik.

Fosil-fosil mereka sangat langka, sehingga kita belum memiliki gambaran lengkap tentang penampilan dan kebudayaan mereka. Meski begitu, para ilmuwan meyakini bahwa Denisovan memiliki kemiripan dengan Neanderthal.

Selama bertahun-tahun, kita sering menggambarkan Neanderthal sebagai makhluk primitif yang bodoh. Namun, penemuan-penemuan terbaru telah mengubah pandangan kita.

Ternyata, mereka adalah manusia purba yang cerdas dan kreatif. Mereka mampu membuat alat-alat yang rumit, menciptakan karya seni, dan bahkan melakukan ritual simbolik.

"Anda dapat menemukan… gigi yang mungkin telah ditindik untuk dipakai atau dijadikan perhiasan, dan ini berasal dari situs yang sangat terkait dengan Neanderthal," kata Smith. "Jadi sepertinya abstraksi dan simbolisme dasar telah dipraktikkan, setidaknya oleh Neanderthal akhir."

Apakah Neanderthal mengembangkan kemampuan ini secara mandiri, atau apakah mereka belajar dari Homo sapiens? Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ilmuwan.

"Tetapi kita tahu bahwa definisi bahwa hanya Homo sapiens yang membuat seni dan hanya Homo sapiens yang terlibat dalam apa yang tampak seperti abstraksi… sedang memudar."

Warisan genetik dari masa lalu

Kita sering membayangkan evolusi manusia sebagai sebuah pohon keluarga, di mana setiap cabang mewakili spesies yang berbeda. Namun, penemuan terbaru menunjukkan bahwa gambaran ini terlalu sederhana.

Faktanya, sejarah evolusi kita lebih mirip dengan sebuah sungai yang berkelok-kelok, dengan banyak cabang yang saling berpisah lalu bertemu kembali.

Bagaimana kita bisa menyimpulkan hal ini? Salah satunya adalah melalui analisis DNA. Dalam genom kita, manusia modern, tersimpan potongan-potongan DNA Neanderthal dan Denisovan.

Ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa nenek moyang kita pernah kawin campur dengan spesies manusia purba lainnya.

"Ini adalah gagasan tentang informasi genetik yang berpotensi bercampur dalam beberapa populasi, kemudian terpecah, kemudian pada waktu berikutnya bercampur lagi dan terpecah lagi." ujar Profesor Smith.

Penemuan ini, menurut ahli biologi evolusi Australian National University, JoΓ£o Teixiera, telah mengubah pandangan kita tentang evolusi manusia.

Jika sebelumnya kita menganggap Neanderthal dan Denisovan sebagai spesies yang terpisah dari Homo sapiens, kini kita harus melihat ketiganya sebagai spesies yang sama.

"Kenyataannya, bukti genetik menunjukkan bahwa setidaknya Neanderthal dan Denisovan adalah bagian dari keluarga manusia," papar Teixiera.

Apalah arti sebuah nama?

Jadi, mungkinkah jawaban atas pertanyaan kita sesederhana penamaan?

Mari kita mulai dengan nama. Kata "Homo" dalam bahasa Latin berarti "manusia" atau "laki-laki". Nama ini diberikan kepada berbagai spesies manusia purba, termasuk kita, Homo sapiens. Selain itu, ada Homo neanderthalensis, Homo floresiensis (si Hobbit), dan banyak lagi.

Jika kita mengacu pada definisi ilmiah, maka mungkin saja manusia pertama adalah individu pertama yang masuk dalam genus Homo. Setidaknya itulah pandangan dari arkeolog La Trobe University, Andy Herries.

"Jika kita mendefinisikan sesuatu dalam genus Homo, maka kita mendefinisikan bahwa itu pada dasarnya lebih mirip dengan kita. Homo paling awal adalah awal dari apa artinya menjadi manusia, dalam arti tertentu," jelas Herries.

Namun, kesimpulan sederhana tersebut tentu saja tidak akan terbebas dari kontroversi.

Fosil tertua yang diklasifikasikan sebagai Homo berusia sekitar 2,8 juta tahun dari Ledi-Geraru di Ethiopia. "Tetapi banyak ahli yang meragukan klasifikasi ini karena fosil tersebut hanya berupa rahang bawah," ungkap Herries.

Selain fosil, para ilmuwan juga mencari bukti perilaku manusia purba. Apakah mereka menggunakan alat? Apakah mereka menguburkan orang mati? Apakah mereka memiliki kemampuan berpikir abstrak? Sayangnya, bukti-bukti ini seringkali sulit ditemukan atau tidak lengkap.

"Dari periode itu, mereka menggunakan alat, tetapi kita tidak tahu apakah mereka menggunakan api, dan tentu saja kita tidak berpikir kita menguburkan orang mati atau menciptakan representasi simbolis dari sesuatu. Butuh waktu lama dalam catatan untuk mendapatkan beberapa hal yang kita anggap sebagai perilaku kontemporer," jelas Herries.

 

Salah satu kandidat kuat untuk gelar "manusia pertama" adalah Homo erectus. Spesies ini hidup sekitar 2 juta hingga 100.000 tahun yang lalu dan merupakan manusia pertama yang menyebar keluar dari Afrika.

Homo erectus memiliki beberapa ciri yang membedakan mereka dari spesies hominin sebelumnya, seperti ukuran otak yang lebih besar dan kemampuan membuat alat yang lebih kompleks.

Neanderthal, Homo sapiens, dan Denisovan diperkirakan berasal dari populasi Homo erectus yang terpisah. Neanderthal di Eropa, H. sapiens di Afrika, dan mungkin Denisovan di Asia. Masing-masing spesies ini berevolusi di lingkungan yang berbeda dan mengembangkan adaptasi yang unik.

Semakin digali, semakin rumit

Ketika kita membicarakan tentang manusia pertama, seringkali kita membayangkan sosok yang jelas dan tegas. Namun, kenyataannya jauh lebih rumit dari itu. Semakin dalam kita menggali sejarah evolusi, semakin kabur batas antara manusia dan kera.

Misalnya fakta bahwa sebelum Homo erectus, ada Homo habilis, atau "manusia tangan". Dinamakan demikian karena fosilnya ditemukan bersama dengan banyak alat batu. Homo habilis hidup sekitar 300.000 tahun sebelum kemunculan Homo erectus.

Namun, klasifikasi Homo habilis sebagai "manusia" masih menjadi perdebatan sengit di kalangan para ahli. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Homo habilis lebih mirip kera dan seharusnya dimasukkan ke dalam kelompok Australopithecine.

Salah satu kendala utama dalam mengungkap misteri manusia pertama adalah kelangkaan dan ketidaklengkapan fosil. Seringkali, para ilmuwan hanya menemukan potongan-potongan tulang, seperti tengkorak, tangan, atau panggul.

Hal ini membuat sulit untuk menyusun gambaran yang utuh tentang makhluk purba tersebut. Sebab, menurut Profesor Smith, "Kita tidak tahu bagaimana mereka menyatu."

Evolusi bukanlah proses yang tiba-tiba, melainkan perubahan bertahap yang terjadi selama jutaan tahun. Berbagai ciri khas manusia, seperti berjalan tegak, membuat alat, dan memiliki otak yang besar, tidak muncul secara bersamaan. Ciri-ciri ini berkembang secara bertahap, dan urutan kemunculannya bisa berbeda-beda pada setiap spesies.

Jadi, meskipun tidak ada garis absolut dalam sejarah dengan manusia di satu sisi dan kera di sisi lain, Profesor Herries setuju bahwa manusia pertama menurut ukuran kontemporer kemungkinan adalah Homo erectus.

"Ada langkah evolusi besar yang terjadi sekitar 2 juta hingga 1,8 juta tahun yang lalu, pada peralihan ke Homo erectus, yang menuju ke alat batu dan perilaku yang lebih rumit. Mereka adalah pelancong global pertama. Mereka melakukan banyak hal untuk pertama kalinya," tutup Herries.

 

Bagaimana Manusia Pertama Muncul di Dunia, Menurut Ilmu Pengetahuan?

 

          KITA tahu bahwa manusia belum ada dari awal zaman. Bagaimana pun juga, manusia tidak akan bisa bertahan hidup berdampingan dengan dinosaurus pemakan daging seperti Tyrannosaurus rex. Bagaimana manusia pertama muncul di dunia –dan bagaimana nenek moyang mereka (kakek mereka, kakek buyut mereka, dan selanjutnya)– adalah salah satu pertanyaan terbesar bagi para arkeolog.

Hingga hari ini, pertanyaan tersebut masih membingungkan kami. Ketika semua makhluk hidup berukuran kecil Dalam membahas bagaimana manusia pertama muncul, kita harus memahami dulu bahwa hampir semua makhluk hidup berkembang dari bentuk lain melalui proses evolusi.

Misalnya, contoh kehidupan pertama di Bumi diketahui berumur lebih dari 3,5 milyar tahun yang lalu. Kehidupan awal ini mungkin saja terbentuk dari mikroba-mikroba kecil (terlalu kecil bagi mata manusia) yang hidup di bawah air di dunia yang sangat berbeda dengan saat ini. Saat itu, benua-benua masih terbentuk dan tidak ada oksigen di udara. Sejak masa tersebut, kehidupan di Bumi telah berubah dengan drastis dan hadir dalam banyak bentuk.

Lebih lanjut, sekitar 1 miliar tahun yang lalu selama pertengahan sejarah Bumi (1,8 miliar hingga 800 juta tahun yang lalu), kehidupan di Bumi tidak lebih dari lapisan lendir yang besar.

Garis keturunan yang amat panjang Semua manusia yang hidup sekarang masuk ke dalam spesies yang disebut Homo sapiens. Meskipun demikian, kita memiliki garis keturunan anggota keluarga yang panjang yang disebut hominin, yang sudah ada sebelum manusia modern –termasuk saudara manusia purba kita, Neandertal (Homo neanderthalensis).

Homo sapiens adalah satu-satunya hominin yang masih hidup sekarang. Lihat Foto Ilustrasi Neanderthal(PA) Hominin pertama kali muncul pada berjuta-juta tahun yang lalu dan berubah sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang panjang melalui evolusi. Oleh karena pohon keluarga yang sangat rumit ini, kami perlu memutar otak untuk menentukan apa yang kita maksud sebagai “orang”.

۞ PETA LOKASI MA. Kabeloa Alkhairaat ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞